Quality of Child Development, Parenting, and Risk Factors of Community on Preschool Children at Rural Area in Bogor District

Quality of Child Development, Parenting, and Risk Factors of Community on Preschool Children at Rural Area in Bogor District

By Melly Latifah, Alfiasari, Neti Hernawati
Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen, Vol 2, No 2 (2009)

 

Abstract

Every family wants to reach qualified children in conducting of child caring. Generally, this study aims to analyze: (i) quality of child development; (ii) quality of psychosocial environment of parenting practices; and (iii) quality of family life and community that identified become risk factors to child development. This article is a part of results of multiyears study that consists of data from first year study. The design of the first study is cross sectional study that involved 208 families in rural area who had preschool children. The sites of study are four villages in two sub districts (Ciawi and Ciampea) in Bogor. The sites chosen by purposive based on the ecological context. Meanwhile, the samples are chosen by random sampling the result of this study showed that in all of study sites, only 70% of the children that had high quality of developmental task. The other result showed that there were 71,6% families in Ciawi and 64,2% in Ciampea that had moderate quality of psychosocial environment of parenting practices. The level of stress and anxiety of mother gave significant negative effect to quality of parenting. There are some factors that identified will become risk factors of community to child development such as communication low level of education, low income, and low knowledge of parenting.

Key words: HOME, parenting, preschool children, quality of development, risk factors of community

 

JURNAL ILMU KELUARGA & KONSUMEN
Departemen Ilmu Keluarga & Konsumen
Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor
Jl. Lingkar Akademik Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680
Phone: (0251) 8628303 / 8627432
Fax: (0251) 8627432
http://ikk.fema.ipb.ac.id

The Impact of Character-Based Holistic Education to Children’s Multiple Intelligences of Preschool Children

The Impact of Character-Based Holistic Education to Children’s Multiple Intelligences of Preschool Children

By Melly Latifah & Neti Hernawati

Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen, Januari 2009, p : 32-40 Vol. 2, No.1 ISSN : 1907 – 6037

ABSTRACT. Character-based holistic education is new perspective that starting to be realized will give impact not only to character building but also to others developmental tasks, especially in preschool children. This study aims to analyze the impact of character-based holistic education to their multiple intelligences which was held in the preschool education in North Aceh District, Nanggroe Aceh Darussalam Province. This research design is cross sectional study. This study population is preschool age children (5-7 years), consists of children that attended in Taman Bermain Anak Semai Benih Bangsa (TBASBB)-as a nonformal education- and Taman Kanak Kanak (TK) -as a formal education-, and who do not attended in TBA-SBB/TK. The total samples -and his/her family- were 208. The result of the research showed that character of TBA-SBB participants significantly better than control group, even with a group of formal education (TK). Participants of TBA-SBB had the highest multiple intelligences and significantly different in all aspects of multiple intelligences than the control group. Character and multiple intelligences of the TBA-SBB participants are strongly influenced by the implementation of holistic education in TBA-SBB. Therefore, children who attend school with a good holistic education implementation will have a higher character and multiple intelligences score.
Key words: character development, holistic education, multiple intelligences, preschool children

MELLY LATIFAH & NETI HERNAWATI
Staf Pengajar Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen,
Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor,
Jalan Lingkar Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680

PROSES MENGETAHUI PADA ANAK

PROSES MENGETAHUI PADA ANAK
(Tinjauan Pendekatan Pemrosesan Informasi)

Oleh :
Melly Latifah
(17 Desember 2014)

Teori kognisi menjelaskan tentang bagaimana proses mengetahui terjadi pada manusia. Dalam teori ini, ada beberapa model yang digunakan untuk menjelaskan proses mengetahui pada manusia. Akan tetapi, dalam dua dekade terakhir, pemrosesan informasi merupakan model yang paling banyak digunakan dalam penelitian-penelitian tentang human cognition (Miller, dalam Vasta, Haith & Miller, 1992). Oleh karena itu, dalam artikel ini akan dibahas proses mengetahui berdasarkan Pendekatan Pemrosesan Informasi (Information Processing Approach).

Model pemrosesan informasi membahas tentang peran operasi-operasi kognitif dalam pengolahan informasi (Hetherington & Parke, 1986). Dalam model ini manusia dipandang sebagai sistem yang memodifikasi informasi sendiri secara aktif dan terorganisir. Perkembangan seseorang dalam pemrosesan informasi berkaitan dengan perubahan-perubahan kuantitatif dan kualitatif dalam aspek ini serta pengaruh-pengaruh genetis dan lingkungan. Inti dari perkembangan dalam pemrosesan informasi adalah terbentuknya sistem pada diri seseorang yang semakin efisien untuk mengontrol aliran informasi (Miller, 1993).

Saat ini ada dua model yang dapat digunakan untuk menjelaskan teori pemrosesan informasi, yaitu model penyimpanan (store/structure model) dan model tingkat pemrosesan (level of processing). Model penyimpanan dikembangkan oleh Atkinson & Shiffrin (dalam Miller, 1993), sedangkan model tingkat pemrosesan dikembangkan oleh Craik dan Lockhart (dalam Miller, 1993).

Dalam model pemrosesan informasi yang dikembangkan oleh Atkinson & Shiffrin, kognisi manusia dikonsepkan sebagai suatu sistem yang terdiri dari tiga bagian, yaitu masukan (input), proses dan keluaran (output). Informasi dari dunia sekitar merupakan masukan bagi sistem. Stimulasi dari dunia sekitar ini memasuki reseptor memori dalam bentuk penglihatan, suara, rasa, dan sebagainya. Selanjutnya, input diproses dalam otak. Otak mengolah dan mentransformasikan informasi dalam berbagai cara. Proses ini meliputi pengkodean kedalam bentuk-bentuk simbolis, membandingkan dengan informasi yang telah diketahui sebelumnya, menyimpan dalam memori, dan mengambilnya bila diperlukan. Akhir dari proses ini adalah keluaran, yaitu perilaku manusia, seperti berbicara, menulis, interaksi sosial, dan sebagainya (Vasta, dkk., 1992).

Secara rinci, Pressley, (1990) memaparkan pemrosesan informasi sebagai berikut : Pertama-tama, manusia menangkap informasi dari lingkungan melalui organ-organ sensorisnya (yaitu mata, telinga, hidung, dan sebagainya). Beberapa informasi disaring (diabaikan) pada tingkat sensoris, kemudian sisanya dimasukkan ke dalam ingatan jangka pendek (kesadaran). Ingatan jangka pendek mempunyai kapasitas pemeliharaan informasi yang terbatas sehingga kandungannya harus diproses sedemikian rupa (misalnya dengan pengulangan atau pelatihan), jika tidak akan lenyap dengan cepat. Bila diproses, informasi dari ingatan jangka pendek (short-term memory) dapat ditransfer ke dalam ingatan jangka panjang (long-term memory).

Ingatan jangka panjang merupakan hal penting dalam proses belajar. Menurut Anderson (dalam Pressley, 1990), tempat penyimpanan jangka panjang mengandung informasi faktual (disebut pengetahuan deklaratif) dan informasi mengenai bagaimana cara mengerjakan sesuatu (disebut pengetahuan prosedural).

Menurut pandangan model pemrosesan informasi yang dikembangkan oleh Atkinson & Shiffrin, sejak kecil seorang anak mengembangkan fungsi kontrol eksekutifnya dalam mengolah informasi dari lingkungannya. Menurut Hetherington & Parke (1986), pada usia antara 3 hingga 12 tahun, fungsi kontrol eksekutif seseorang menunjukkan perkembangan yang pesat. Fungsi tersebut mencakup pengaturan informasi yang diperlukan, termasuk memilih strategi yang digunakan dan memonitor keberhasilan penggunaan strategi tersebut. Dalam pandangan model ini, anak merupakan pengatur yang aktif dari fungsi-fungsi kognitifnya sendiri. Oleh karena itu, dalam menghadapi suatu masalah, anak memilih masalah yang akan diselesaikannya, memutuskan besar usaha yang akan dilakukannya, memilih strategi yang akan digunakannya, menghindari hal-hal yang mengganggu usahanya, serta mengevaluasi kualitas hasil usahanya.

Model pemrosesan informasi berasumsi bahwa anak-anak mempunyai kemampuan yang lebih terbatas dan berbeda dibanding orang dewasa. Anak-anak tidak dapat menyerap banyak informasi, kurang sistematis dalam hal informasi apa yang diserap, tidak mempunyai banyak strategi untuk mengatasi masalah, tidak mempunyai banyak pengetahuan mengenai dunia yang diperlukan untuk memahami masalah, dan kurang mampu memonitor kerja proses kognitifnya (Hetherington & Parke, 1986). Mengingat perkembangan anak yang optimal adalah tujuan para psikolog perkembangan, maka sangat relevan jika individu-individu yang berkecimpung di bidang ini melakukan penelitian yang tujuannya bermuara pada meningkatkan kemampuan pemrosesan informasi.

Model kedua yang dapat digunakan untuk menjelaskan teori pemrosesan informasi adalah model tingkat pemrosesan (level of processing). Model tingkat pemrosesan yang dikembangkan oleh Craik dan Lockhart ini memiliki prinsip dasar bahwa informasi yang diterima diolah dengan tingkatan yang berbeda. Semakin dalam pengolahan yang dilakukan, semakin baik informasi tersebut diingat. Pada tingkat pengolahan pertama akan diperoleh persepsi, yang merupakan kesadaran seketika akan lingkungan. Pada tingkat pengolahan berikutnya akan diperoleh gambaran struktural dari informasi. Pada tingkat pengolahan terdalam akan diperoleh makna (meaning) dari informasi yang diterima (Craik dan Lockhart, dalam Morgan et al., 1986).

Menurut model tingkat pemrosesan, berbagai stimulus informasi diproses dalam berbagai tingkat kedalaman secara bersamaan bergantung kepada karakternya. Semakin dalam suatu informasi diolah, maka informasi tersebut akan semakin lama diingat. Sebagai contoh, informasi yang mempunyai imaji visual yang kuat atau banyak berasosiasi dengan pengetahuan yang telah ada akan diproses secara lebih dalam. Demikian juga informasi yang sedang diamati akan lebih dalam diproses daripada stimuli atau kejadian lain di luar pengamatan. Dengan kata lain, manusia akan lebih mengingat hal-hal yang mempunyai arti bagi dirinya atau hal-hal yang menjadi perhatiannya karena hal-hal tersebut diproses secara lebih mendalam daripada stimuli yang tidak mempunyai arti atau tidak menjadi perhatiannya (Craik & Lockhart, 2002).

Pengulangan (rehearsal) – yang memegang peranan penting dalam pendekatan model penyimpanan – juga dianggap penting dalam pendekatan model tingkat pemrosesan. Namun, menurut pandangan model tingkat pemrosesan, hanya mengulang-ngulang saja tidak cukup untuk mengingat. Untuk memperoleh tingkatan yang lebih dalam, aktivitas pengulangan haruslah bersifat elaboratif. Dalam hal ini, pengulangan harus merupakan sebuah proses pemberian makna (meaning) dari informasi yang masuk. Istilah elaborasi sendiri mengacu kepada sejauh mana informasi yang masuk diolah sehingga dapat diikat atau diintegrasikan dengan informasi yang telah ada dalam ingatan (Craik dan Lockhart, dalam Morgan et al., 1986).

Telah disebutkan bahwa prinsip dasar model tingkat pemrosesan informasi adalah semakin besar upaya pemrosesan informasi selama belajar, semakin dalam informasi tersebut akan disimpan dan diingat. Prinsip ini telah banyak diaplikasikan dalam penyusunan setting pengajaran verbal, seperti mengingat daftar kata, juga pengajaran membaca dan bahasa (Cermak & Craik, dalam Craik & Lockhart, 2002).

Semoga artikel ini dapat menambah wawasan Anda, terutama para orang tua dan guru, tentang bagaimana proses mengetahui pada anak, sehingga dapat dijadikan dasar panduan dalam membimbing anak-anak, baik di rumah maupun di sekolah.

Salam,
Melly Latifah
Dosen Bagian Perkembangan Anak
Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen
Fakultas Ekologi Manusia, IPB

 

 

BAGAIMANA ANAK BELAJAR?

BAGAIMANA ANAK BELAJAR ?
(Tinjauan Psikologi Kognitif)

oleh :
Melly Latifah
(16 Desember 2014)

Ketika anaknya yang masih berusia di bawah dua tahun menyebutkan kosakata baru, atau mampu membuka pakaiannya, atau menghitung jumlah telinganya, mungkin di benak orang tua ada pertanyaan, “Bagaimana cara anak mempelajari sesuatu?” Dengan kata lain, bagaimana anak belajar, dari tidak tahu hingga kemudian menjadi tahu sesuatu hal. Apakah pengetahuan yang dimilikinya itu diperoleh anak dengan cara merekam atau memotret dari sekitarnya yang kemudian ditampilkan kembali disaat anak merasa perlu menampilkannya, atau bagaimana?

Anak adalah organisme yang aktif berkembang mengaktualisasikan potensi genetiknya. Apakah potensi anak – yang merupakan pembawaan lahir tersebut – akan teraktualisasi secara optimal atau tidak, sangat tergantung kepada lingkungan – faktor-faktor di luar diri anak : yaitu gizi, kesehatan, dan stimulasi psikososial – yang mendukung perkembangan anak. Interaksi antara faktor pembawan lahir dan faktor lingkungan itulah yang akan menentukan bagaimana kualitas perkembangan anak, termasuk dalam kemampuan belajar dan perkembangan pengetahuannya, yang dalam psikologi termasuk dalam area psikologi kognitif.

Tokoh yang paling terkenal di bidang psikologi kognitif adalah Jean Piaget, yang lahir dan besar di Swiss (tahun 1896 – 1980). Piaget dianggap sebagai psikolog yang paling berpengaruh di bidang perkembangan anak. Teorinya masih diterima secara luas oleh banyak psikolog perkembangan saat ini. Minat keilmuan Piaget sangat besar terhadap karakteristik pengetahuan pada anak-anak dan bagaimana pengetahuan itu berubah ketika anak berkembang. Piaget menyebut bidang yang diminatinya itu sebagai Genetic Epistemology

Menurut Piaget, anak merupakan organisme aktif dan self-regulating yang berkembang melalui interaksi antara pembawaan lahir (innate) dengan faktor-faktor lingkungan (Hetherington & Parke, 1986; Seifert & Hoffnung, 1987; Papalia & Olds, 1988; Miller, 1993). Dalam konteks pengembangan pengetahuan atau kemampuan berfikir pada anak, istilah aktif dan self-regulating mengacu pada suatu keadaan di mana anak memiliki inisiatif untuk mengetahui sesuatu atau mempelajari sesuatu yang didorong oleh faktor pembawaan lahirnya serta dukungan dari faktor lingkungannya.

Secara konkrit dapat dijelaskan bahwa pada diri seorang anak, pengetahuan (kemampuan kognitif) akan berkembang melalui tahapan-tahapan yang berjalan seiring dengan pertumbuhannya. Dalam hal ini, pertumbuhan mengacu kepada proses pematangan fisik anak, termasuk otak dan sistem syaraf pusat yang merupakan organ penting untuk berfikir. Mengingat perkembangan kemampuan kognitif ditentukan oleh pola dan potensi bawaan serta pencapaiannya sangat ditentukan oleh pengalaman/pembelajaran (faktor lingkungan), maka bagus-tidaknya potensi kognitif yang diturunkan oleh orang tua serta bagus-tidaknya stimulasi psikososial yang diberikan di rumah, sekolah ataupun lingkungan lainnya, sangat menentukan bagaimana kemampuan kognitif anak.

Menurut Piaget, tahapan pertumbuhan yang dilalui anak (proses biologis) akan mempengaruhi konsep tertentu yang akan membentuk kematangan intelektualnya (proses psikologis). Sebagai contoh, konsep bilangan, waktu, dan ukuran akan berkembang seiring dengan pertumbuhan otaknya. Dengan demikian, orang tua atau guru tidak bisa memaksa anak untuk memahami konsep-konsep tersebut sebelum pertumbuhan otak dan sistem syaraf pusatnya – sebagai perangkat untuk berfikir – bisa mencapai kemampuan itu.

Piaget berteori bahwa selama perkembangannya, manusia mengalami perubahan-perubahan dalam struktur berfikir, yaitu semakin terorganisasi. Selain itu, suatu struktur berpikir yang dicapai selalu dibangun pada struktur dari tahap sebelumnya. Dengan kata lain, mengembangkan pengetahuan anak sama artinya dengan membangun struktur berfikir anak. Untuk membangun kemampuan berfikir yang baik, dibutuhkan proses yang bertahap dan seksama agar terbentuk fondasi kemampuan berfikir yang kokoh, baik dan benar.

Pembangunan struktur kognitif pada seorang anak, hasilnya sangat ditentukan oleh empat faktor, yaitu kematangan fisik, pengalaman dengan obyek-obyek fisik, pengalaman sosial, dan ekuilibrasi. Dari hasil interaksi faktor-faktor itulah, kemampuan anak dalam berfikir mengalami perkembangan. Kematangan fisik berkaitan dengan kematangan organ-organ tubuh untuk berfikir yang menentukan kesiapan anak untuk belajar. Sementara itu, pengalaman yang diperoleh anak dari lingkungannya – baik berupa pengalaman dengan obyek-obyek fisik maupun sosial – akan membawa kemajuan kognitif kepada anak melalui proses asimilasi dan akomodasi.

Proses asimilasi dan amomodasi membantu anak-anak beradaptasi terhadap lingkungannya karena melalui proses-proses tersebut pemahaman mereka mengenai dunia semakin dalam dan luas. Dengan demikian, jelas bahwa Pada dasarnya, manusia mengetahui sesuatu setelah yang bersangkutan melakukan proses belajar dari lingkungannya.

Prinsip-prinsip psikologi kognitif dalam dekade terakhir menurut Jonassen (1987) memiliki asumsi-asumsi yang sangat berbeda dibandingkan dengan asumsi-asumsi ketika behaviorisme mendominasi teori belajar. Menurut asumsi terbaru, belajar lebih dari sekedar berespon pasif terhadap stimuli atau informasi tertentu, tetapi individu seharusnya menghampiri stimuli tersebut, mengakses pengetahuan yang sudah ada untuk dihubungkan dengan stimuli itu, menyusun kembali struktur pengetahuan tersebut untuk mengakomodasikan informasi baru tersebut, dan akhirnya mengkodekan dasar pengetahuan yang telah direstrukturisasi tersebut ke dalam ingatan, yang kemudian bisa diakses untuk menerangkan dan menafsirkan informasi baru.

Menurut Jonassen (1987), pengertian yang dihasilkan oleh setiap individu mengenai materi yang sedang dipelajarinya bersifat individual dan tidak dapat dikontrol oleh pengarahan, tetapi dikonstuksi oleh individu sendiri dengan menggunakan pengetahuan yang telah ada sebagai fondasi dalam menginter-pretasikan/menafsirkan informasi dan membangun pengetahuan baru. Dengan demikian, menurut Wittrock (1974) dalam Jonassen (1987), belajar bukanlah sebuah resepsi pasif dari pengorganisasian dan abstraksi seseorang, melainkan sebuah proses konstruktif aktif.

Menurut Jonassen (1987), dalam bagian tulisannya yang berjudul “Integrating Learning Strategies into Courseware to Fasilitate Deeper Processing”, belajar merupakan sebuah proses konstruktif aktif ketika individu mengartikan informasi dengan cara mengakses dan menerapkan pengetahuan yang telah ada. Sebuah model instruksional yang memanifestasikan prinsif tersebut adalah hipotesa generatif.

Menurut hipotesa generatif, pemahaman (comprehension) memerlukan transfer proaktif dari pengetahuan yang telah ada ke materi baru, yang mana hal ini tergantung pada susunan transformasi dan elaborasi kognitif kompleks yang bersifat unik pada setiap individu. Dalam pemahaman ini, belajar merupakan suatu proses generatif. Artinya, belajar merupakan proses aktif yang ditimbulkan dari diri sendiri. Kegiatan-kegiatan belajar generatif menuntut individu secara sadar dan sengaja untuk menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang telah mereka miliki, bukan hanya sekedar merespon material tanpa menggunakan pengetahuan kontekstual. Dalam kegiatan-kegiatan tersebut, informasi dikonsfirmasikan dan dielaborasikan ke dalam bentuk yang lebih pribadi sehingga lebih dapat diingat oleh individu.

Menurut Resnick (1989), belajar mengandung tiga aspek yang saling berhubungan. Pertama, belajar merupakan sebuah proses konstruksi pengetahuan, bukan merupakan perekaman atau absorpsi pengetahuan. Kedua, belajar adalah knowledge-dependent, artinya : orang menggunakan pengetahuan yang ada untuk mengkonstruksi pengetahuan baru. Ketiga, belajar sangat dipengaruhi situasi ketika proses belajar itu terjadi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa belajar bukanlah merupakan proses mekanis perekaman pengetahuan, tetapi merupakan proses konstruksi aktif yang seharusnya disadari dan dilakukan secara sengaja (generatif) oleh individu, yang dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimilikinya serta situasi dimana proses belajar itu terjadi.

Bagaimana cara putera-puteri Anda belajar? Bagaimana cara Anda dan guru-guru di sekolah mengembangkan pengetahuan putera-puteri Anda? Apakah sesuai dengan teori belajar mutakhir, atau masih menggunakan cara lama? Silakan dicermati.

Salam,
Melly Latifah
Dosen Bagian Perkembangan Anak
Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen
Fakultas Ekologi Manusia, IPB

 

 

StatPress
Visits today: 7